Rabu, 11 Mei 2011

“AKHIR KISAH MASAKU”

Oleh : wiwik widya ratih

Aku, Riki aranda firdaus, anak tunggal dari pasangan suami istri Farida dan Daus Pakelaman, lahir di Padang, 8 januari 1989. Penampilan fisikku lumayan menarik, tinggi 176 cm dan berat ideal 65 kg, berkulit putih asli indonesia, prestasi belajarpun aku tak pernah kalah, walaupun tak pernah menempati posisi pertama, posisi 2 dan ke 3 selalu aku yang menempati, tak jarang bila banyak cewek sekelas ataupun beda kelas yang naksir padaku, tapi untuk masalah pacaran? Entahlah.

ѺѺѺ

Aku sedang bingung. Seprei tempat tidurku sudah awut-awutan. Semua gaya dan pisisi tidur telah aku coba, dari mulai terlentang, tengkurap, dan lain-lain sudah aku coba, tetapi mataku tetap tak mau diajak tidur. Percakapan mama dihari terakhir Ebtanas minggu lalu, masih terngiang dikepalaku.

“ mama bukannya melarang kamu untuk melanjutkan kuliah, tetapi mengapa harus di Medan?”

tapi ma, Riki memang pengin disana!”

“kenapa? Apakah menurutmu Unand tidak bagus?”

Jawaban dari pertanyaan inilah yang sulit kudapat. Aku tahu, Universitas Andalas bukannya tidak bagus. Keinginanku untuk masuk USU adalah karena aku ingin lepas dari ocehan dan pengawasan papa, apalagi mama. Tapi, tentu saja hal ini tak mungkin kujadikan sebagai alasan yang tepat. Papa dan mama terlalu keras padaku, terutama soal pergaulanku. Hampir semua temanku tahu mengenai hal ini, “Riki si anak mama” telah melekat dalam diriku.

“konsentrasilah pada belajarmu, jangan dulu memikirkan pacaran, itu tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja” itulah kalimat yang sering aku terima kalau ada teman perempuanku yang sekedar menelephon ataupun mampir kerumahku. Jadi otomatis kalau ada telephon atau tamu yang berjudul “PEREMPUAN” yang mencariku pasti mama tidak akan menyampaikannya padaku.

Sekarang aku sudah tamat SMA, walaupun sebenarnya belum karena masih menunggu hasil ujian yang belum keluar.

Aku sudah tak tahan ingin segera pergi dari dekapan mama, aku sangat capek mendengar segala macam ocehan dari mama, terlebih sekarang aku telah lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah, lagipula aku laki-laki. Jadi, tak seharusnya mama begitu over protective terhadapku, itulah salah satu alasanku untuk memilih kuliah diMedan, bukan dikota Padang seperti keinginan mama.

“kalau kamu disini, kamukan bisa bantu-bantu papamu, nemenin mama disini”

Begitu kata mama, sebenarnya kalau suruh bantu papa tak masalah bagiku, tapi kalau harus lama-lama dirumah dengan segala macam ocehan dari mama, aku jadi ragu.

ѺѺѺ

Akhirnya do’aku dikabulkan, aku diterima menjadi mahasiswa di USU, besok aku berangakat, dan itu artinya aku akan lepas dengan mama.

hati-hati disana, Medan bukan Padang, kau sendirian disana, jangan lupa makan yang teratur, jangan sampek telat, sholatmu dijaga, disana kau tak ada yang mengingatkan kalau kau lupa mengerjakan sesuatu hal, tak ada yang menegurmu kalau kau berlaku salah”

Mama menghela nafas” satu lagi, jangan pacaran dulu sebelum kau lulus, kau tahu kalau pacaran itu banyak ruginya daripada untungnya, ya rugi waktu, ya rugi biaya dan bla...bla...bla...” entah mama bicara apa lagi aku tak begitu peduli lagi, yang penting besok aku akan berangkat keMedan diantar oleh papa.

ѺѺѺ

Aku mengantar papa keterminal untuk pulang kePadang setelah sekitar seminggu menemaniku di Medan untuk mencarikanku tempat tinggal, dan setelah aku mendapat kos di sekitar tempat kuliahku, ayah pulang.

ingat pesan mamamu, ini medan, bukan Padang, dan papa lihat disini mayoritas penduduknya orang batak, dan setahu papa orang batak bertemperamental tinggi. Dan satu lagi pesan papa, kau harus jadi orang yang sukses, banggakan kami berdua”

Setelah cukup lama aku dan papa duduk dan mendengar ocehan papa, bus yang akan mengantar papa ke Padang berangkat, sebelum jauh meninggalkan tempatku berdiri, aku melambaikan tangan kearah papa, sedih juga melihat papa telah pergi dan meninggalkan aku sendiri. Tapi, ini baik karena aku telah benar-benar bebas dari mama. Dan sekarang, kisah “Riki anak mama” telah berakhir.

Aku bebasssss.......

Teriakku dalam hati.

ѺѺѺ

Sudah sebulan ini aku tinggal di Medan, dan sudah sebulan aku hidup sendiri, tanpa ocehan dan peraturan mama yang selalu bergema ditelingaku, tak enak juga kalau tak mendengar ocehan dari mama, aku seperti kesepian. Tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku menyukai suasana ini, ini yang dinamakan hidup indah.

ѺѺѺ

“ ya ma... Riki baik-baik saja, sudah mama tidak usah kwatir sama Riki, Riki bisa jaga diri baik-baik!”

“ jangan sampai telat makan, konsentrasilah pada kuliahmu, jangan pacaran dulu, uang yang kemarin papa tranfer masih, atau sudah habis? Jangan lupa laporkan semua hasil kuliahmu kepada mama, mama nggak mau kamu sampai tidak sukse, dan ingat satu hal lagi bla....bla...bla...!”

Aku menghela nafas, ternyata mama masih sama dengan yang dulu, aku heran, mengapa mama tak pernah bosan mengulang segala ocehan yang ia katakan, dan anehnya segala perkataannya selalu itu-itu saja.

ѺѺѺ

Sudah satu tahun ini aku berada dimedan, berat kalau harus mengatakan aku menyukai hal ini, tapi ini adalah pengalaman yang sangat menarik bagiku, disini aku tinggal disebuah kos dekat tempat kuliahku.

Aku berteriak dalam hati, aku benar-benar bebas, tak ada lagi ocehan yang selalu kudengar dari mulut mama, tak ada lagi yang menggedor-gedor pintu kamarku, tak ada yang berteriak-teriak kalau waktunya sholat, dan yang paling penting, tak ada yang melarangku pergi jalan-jalan bersama perempuan yang memang sedang aku taksir saat ini, dan yang paling penting aku bebas melakukan apapun yang aku mau tanpa mama, aku benar-benar menikmati hidupku sekarang, aku menyesal kenapa tak dari dulu aku merasakan hal ini, rasanya ada yang baru dalam hidupku, aku mulai menyalahkan mamaku, saat ini aku benar-benar menyesal.

Ditempat kos ini aku tinggal bersama keempat orang temanku, yaitu Roni, Ferdi, Afif, dan Rendra. Pemilik kos disini bu Mira adalah suami seorang AL, mungkin sebulan atau bahakan 3 bulan sekali baru pulang, kesepian inilah yang menghinggapi bu Mira, atau biasa dipangil tante Mira, tante Mira orangnya cantik, ramah, dan penampilannya menarik, belum punya anak dari 5 tahun pernikahannya

Setiap hari kalau tidak ada kuliah, aku selalu mengobrol dengan tante Mira, kadang kita mengobrol tentang pelajaran maupun sampai ngomongin yang lain-lain, tante Mira orangnya sangat asik diajak ngobrol, apalagi diajak ngobrol tentang kehidupan pribadi, sampai suatu saat, dia mengeluh tentang suaminya, katanya dia kesepian dengan semua ini, saking jarangnya suami tante Mira pulang, dia merasa kalau ini sudah keterlaluan, sampai dia mengajakku untuk selingkuh, dia berjanji untuk memenuhi kebutuhan pribadiku, dan akan memberi tumpangan+makan gratis disini, soal rahasia, dia menjamin tidak akan ada seorangpun yang akan mengetahui ini, dia bilang, Afif adalah selingkuhannya juga, aku kaget bukan kepalang, ternyata dibalik sikapnya yang ramah padaku, ternyata dia busuk juga, yah... inilah Medan, yang aku lihat, tak ada yang salah dengan Afif, kuliahnya lancar. Akupun tertarik dengan segala omongan tante Mira, karena yang aku lihat tak ada masalah dengan Afif, malah dia menggembor-gemborkan untuk ikut menjadi pelayan tante Mira, katanya aku akan hidup senang. Padahal ini adalah sebuak awal peristiwa buruk untuk diriku.

ѺѺѺ

Awal aku melakukan perselingkuhan ini aku baik-baik saja, tak ada masalah dengan kuliahku, bahkan segala kebutuhanku lebih dari cukup, minimal ada lima lembar seratus ribu didompetku. Urusanku bersama Cechil gebetanku saat ini juga baik-baik saja, kita masih bisa jalan waktu malam minggu, tante Mira akan datang dan mengetok pintu kamarku kalau om Adit tak dirumah. Kami melakukan perselingkuhan ini hampir satu tahun lamanya.

ѺѺѺ

“Rik, buka pintunya sayang” aku bangun dalam lamunanku, aku yakin itu adalah suara tante Mira, dengan malas aku membuka pintu, kudapati dibalik pintu itu tante Mira tengah memakai pakaian yang super mini, dengan senyumnya yang sangat manis dengan menggandeng tangan Afif melenggang kekamarku, aku mengerti maksud dari senyuman tante Mira tersebut, itulah yang sering aku lakukan kalau hari sabtu, pacarku selalu menanyakan kenapa aku tak pernah mengajaknya keluar atau hanya sekedar mampir kerumah untuk melepas kangen. Tetapi semua itu telah terobati karena hari minggu aku dan dia menghabiskan seluruh waktu bersama.

Itulah pekerjaan rutinku untuk mencari uang buat tambahan kuliah dan juga untuk membiayai acara kencanku dengan Checil

ѺѺѺ

“ Bro... loe mau sesuatu nggak?”

sesuatu apaan Fif?”

“ sesuatu yang bisa bikin loe melayang kayak disurga “

maksud loe sabu-sabu Fif?”

“ nah... loekan udah tahu, kenapa loe masih nanya?”

nggak ah.. gue takut!”

“ takut sama siapa? Tuhan ? Nggak pantes loe nyebut nama DIA, loe udah kotor!”

Ucapan Riki membuat aku tersentak, dia bener, aku memang udah kotor, aku udah jauh banget sama yang namanya ibadah, akupun telah lupa kapan terakhir aku menyebut nama Tuhan

“ jangan bengong aja loe, mau nggak? Jangan muna' loe kalo jadi orang, bilang aja mau, nih gue kasih loe gratis, kalo loe butuh lagi, loe ngomong sama gue, kalo buat loe gratis dah” dia memberiku sebungkus kecil serbuk itu, lalu pergi meninggalkan aku sendirian.

Aku mulai memandangi serbuk itu secara cermat, dari mulai memegang, mencium, dan mulai menjilatinya, lalu aku mengembalikan serbuk itu seperti semula, lalu berjalan kearah kamar Riki

ajarin gue gimana cara makainya donk”

Riki pun tersenyum penuh kemenagan kearahku dan mulai menjelaskan bagaimana cara memakainya.

ѺѺѺ

Pertama aku berkenalan dengan yang namanya sabu-sabu, aku sudah menyukainya, karena barang tersebut bisa membuat aku melayang seperti disurga, apalagi kini aku sudah mengenal tentang cara pemakaian lewat suntik, rasanya 10 kali lipat lebih enak dari yang gaku bayangin, Afifpun tak segan mengajak aku untuk berpesta bersama dikamarnya, dan aku mulai mengenal kehidupan Afif yang sebenarnya, kehidupan anak bebas kayak dia, menikmati hidup tanpa memperdulikan apapun, yang dia tau hanya kesenangan duniawi, pikiranku sudah tak bisa aku kendalikan secara penuh, semuanya serasa terbang

ѺѺѺ

Beberapa hari ini Cechil tak menghubungi aku lagi, entah apa maksud semua itu, tahu-tahu yang aku lihat dikampus dia sudah menggandeng pria lain, aku marah besar, aku merasa tak dihargai sebagai pacar, aku membentak dia didepan Roni, pacar barunya yang juga teman satu kostku.

jadi ini yang kamu lakukan selama ini? Tak pernah menghungi aku lagi, tak pernah ada kabar, tahu-tahu kau telah menggandeng pria ini?” teriakku dengan menunjuk muka Roni.

santai donk loe...” jawab Roni

“ ini bukan urusan loe lagi, gue udah nggak butuh loe lagi, gue udah tau semuanya tentang loe, loe udah ada main sama ibu kost loekan?”

kata siapa?” jawabku mengelak

“ gue yang ngasih tahu sama si Cechil, gue kasihan sama dia, gue tahu loe selingkuh sama tante Mira dengan mata kepala gue sendiri, dan gue juga tau loe pemakai sabu-sabu” kata Roni

Aku diam, tak ada kata-kata yang mampu aku ucapkan untuk mengelak semua ini, ini kenyataan, aku sangat terpukul dengan semua ini, ada rasa menyesal yang sangat amat menusuk dadaku, untuk pertama kali aku memukul wajah Roni.

“ Cuma ini yang bisa loe lakuin?” bentak Roni

Aku terdiam, hanya air mata yang meleleh dipipiku

“banci loe!!!” tambah Roni seraya menarik tangan Cechil yang tengah menangis, mereka pergi, disini aku sendiri, aku bingung, pikiranku kosong, badanku terasa dingin, ah... aku butuh barang itu untuk menenangkanku, aku pulang dengan perasaan yang kacau, hatiku remuk, sangat remuk, akhirnya aku kembali ke tempat kost dan menemui Afif, aku ingin barang itu.

Berminggu-minggu aku tak masuk kekampus, akhirnya aku di DO oleh pihak kampus, tambah lagi bebanku sekarang, apa yang harus aku katakan pada mama dan papa? Ah.... masa bodoh dengan semua itu, aku tak mau lagi memikirkan semua itu, sebulan lamanya aku, Afif, dan tante Mira hanya berpesta dan terus berpesta, tubuhku tak ada daya lagi untuk berfikir positif, sebulan itulah waktu yang sangat singkat untuk membuat tubuhku hancur.

ѺѺѺ

Siang hari aku pulang menuju rumah tante Mira setelah tadi malam menginap di PUB yang biasa aku kunjungi, jalanku sempoyongan, dan Bruakkk......, ada yang menabrakku dari depan, lalu ada jeritan yang membuatku kaget, ah....kuarasakan ngilu dikepalaku, mataku buram, yang kulihat hanya orang-orang berjalan kearahku dengan cemas, pelan-pelan mataku tak dapat melihat apapun, dan aku juga tak lagi ingat kejadian yang aku alami sekarang ini

ѺѺѺ

Ah.... kurasakan ada yang menggenggam tanganku seraya menangis, aku sadar apa yang tengah aku alami, dan sekarang, aku ada dimana?? Siapa orang tengah berbaju hitam itu? Aku ketakutan, aku berteriak, tak ada yang mendengar, disamping kiriku ada mama, kelihatannya dia sedang menangis untuk aku, dan papa, dia membawa semacam kitab yang dulu sering aku baca pada malam jum’at, apa itu? Aku melihat tubuhku tergeletak, apa aku sudah mati? Aku melihat segerombolan teman SMA dan kuliahku, dan siapa itu? Itu Cechil, ingin sekali aku minta maaf padanya, mama terus meraung tak henti-hentinya, apa?? Apa aku sudah terlambat???.

Aku masih bingung dengan semua ini, yang kulihat, di kiriku ada orang berbaris menghadap ke barat, aku disholati??? “ jangan lakukan itu” Arrrggghhh.... aku ingin mencegah semua itu, tapi apa yang bisa aku lakukan??? Selanjutnya aku merasa aku tengah berada dalam sebuah keranda, aku ingin berteriak “ jangan bawa aku, jangan!!!” tapi tak ada yang mendengar semua itu, akhirnya aku sampai ketempat tujuan, sebuah liang sempit berdinding tanah, “aku nggak mau kesana, jangan bawa aku kesana, jangan masukan aku kesana” aku meraung dengan keras, , aku memohon kepada orang yang sedang membuka atas bajuku, aku lihat Cechil terus menangis mendapati tubuhku seperti ini, bulir tanah kini tengah mengguyur tubuhku, aku menangis, tak ada yang bisa menyelamatkan aku, aku berpikir sejenak, apa aku bermimpi??? Mengapa aku bermimpi seperti ini? Aku tak mau tuhan, aku minta maaf!!!, disini gelap, gelap... tak ada siapa-siapa disini, aku tertunduk sepi, lalu ada bayangan mama dengan segala ocehannya, tapi ini beda, yang kurasakan bukan kesal atas ocehannya, aku menangis, lalu ada bayangan tante Mira dan Afif yang bermuka seram, tubuh mereka bak dibakar oleh api yang sangat besar, aku menagnis sekencang-kencangnya Lalu aku mulai mengucapkan kalimat syahadat. Aku bangun dan berteriak, aku kaget, aku ada dimana sekarang, aku bingung, ada segerombol orang disini, lalu ada seseorang yang berpakaian suster menenangkanku, ya... itu benar-benar suster, dia menyuruhku untuk tenang, lalu ditanganku ada semacam rasa suntikan, akibat suntikan itu aku mulai gemetaran, badanku lemas tak ada daya, apa aku masih dirumah Tante Mira bersama Afif, sudah hentikan suntikan itu, aku mencoba berteriak, tapi akibat suntikan itu aku menjadi lemas dan tertidur.

Aku bangun, kepalaku terasa sangat berat, sakit, aku rasa semuanya berputar, aku mencoba berdiri, tapi kakiku tak dapat kugerakan, tanganku mencoba meraih keplaku, tapi apa??? Tanganku tak dapat kugerakkan, ada bayang mama disana yang tengah menangis, mungkinkah itu benar-benar mama? Aku tak lagi melihat bayangan hitam itu lagi. Mataku kaku, tak dapat aku buka, hanya mulutku yang sesekali mengeluarkan rintihan, aku mencoba memberi isyarat kepada mama dengan menggerakkan tanganku perlahan.

“ ya sayang, mama disini, disampingmu” suara mama dengan paniknya mencoba menenangkanku, aku sangat tenang dengan suara mama itu,

“ Riki minta maaf ma!” itulah kata yang ingin aku katakan, tapi hanya desiran suara yang tak jelas yang aku keluarkan, setelah seminggu lebih aku berada dirumah sakit, aku hanya bisa terbaring disini, dengan semua kemarahan yang aku ingin lampiaskan kepada mereka, ya... tante Mira dan Afif, merekalah yang membuat aku begini, tapi itu tidak mungkin, ini bukan salah mereka, ini adalah salahku sendiri, aku yang mengakibatkan tubuhku seperti ini, dan mereka hanya korban, sama seperti aku.

Hari demi hari berlalau, setelah sebulan aku dirumah sakit, aku diperbolehkan pulang oleh dokter, dengan menggunakan kursi roda aku diantar pulang oleh mama dan papa, kakiku masih belum bisa berjalan dengan sempurna, tiap hari mamakulah yang setia merawatku, selalu memberi semangat tentang hidup kepadaku, barulah sekarang terasa kalau segala ucapan mama benar, hah.... aku tak mau lagi menyia-nyiakan mama, aku sayang mama, sekarang aku tak peduli apa yang orang katakan tentang “Riki si anak mama”, aku nyaman denagn semua ini.

THE END

0 celotehan:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Followers